Ingat

Posted: January 25, 2011 in Sharing is Caring....

Kata Ibnu Mubarak, Khalid bin Ma’dan berkata kepada
Mu’az:

“Mohon diceritakan satu Hadis yang terdengar olehmu
dari Rasulullah SAW. yang dihafal olehmu dan setiap
hari dingat-ingat olehmu lantaran kerasnya hadis itu
dan betapa halus dan dalamnya maksud hadis tersebut.
Hadis manakah yang menurut pendapat tuan yang paling
penting?”

Maka jawabnya(Mu’az): “Baiklah..aku akan sampaikan” Kemudian beliau menangis dahulu, lama sekali menangisnya itu, selanjut beliau berkata:
“Emh,..sungguh rindu sekali kepada Rasulullah, ingin segera bersua dengan baginda.” Kemudian beliau berkata lagi:

“Ketika menghadap Rasulullah SAW. beliau menunggangi unta dan beliau menyuruhku untuk naik di belakang beliau; kemudian berangkatlah aku bersama beliau dengan mengendarai unta tersebut dan beliau menengadah
ke langit, kemudian bersabda dengan maksud: “Puji syukur ke hadirat Allah Yang Berkehendak kepada makhlukNya menurut kehendakNya wahai Mu’adz! Jawabku: “Ya! Sayyidal Mursalin.” Sabda beliau: Sekarang aku akan menceritakan satu cerita kepadamu yang apabila dihafal olehmu, akan berguna bagimu, tapi kalau diabaikan olehmu, maka kamu tidak akan mempunyai hujjah kelak di hadapan Allah. Hai Mu’adz, Allah itu menciptakan tujuh Malaikat sebelum dia menciptakan langit dan bumi; tiap satu ada satu Malaikat yang menjaga pintu; dan tiap-tiap pintu itu dijaga oleh Malaikat Penjaga Pintu, menurut kadarnya pintu dan keagungannya.
Jadi, Malaikat yang memelihara amalnya sihamba, yang mencatatkan amalnya sihamba itu naik ke langit dengan membawa amalnya sihamba yang bersinar-sinar cahayanya bagaikan cahaya matahari. Setelah sampai ke langit Pertama, Malaikat Hafazdzah yang menganggap amalnya sihamba itu banyak, memuji kepada amal-amal tersebut, tapi setelah sampai kepada pintu langit Pertama; kata Malaikat Penjaga Pintu Pertama kepada Malaikat
Hafadzah: “Nah tamparkan amal ini ke muka (wajah) pemiliknya, saya ini penjaga tukang mengumpat, saya diperintahkan untuk tidak menerima tukang mengumpat orang lain itu masuk, jangan sampai melewatiku untuk mencapai langit yang berikutnya.”

Kemudian keesokan harinya ada lagi Malaikat Hafadzah naik ke langit dengan membawa amal Sholih yang berkilauan cahayanya, yang dianggap oleh Malaikat Hafadzah begitu sangat banyaknya serta dipuji; begitu sampai ke langit Kedua (yang lulus/selamat dari langit pertama kerana si pemiliknya tidak suka mengumpat). Kata Malaikat di langit kedua: ..”Berhentilah dan
tamparkanlah amal ini ke wajah pemiliknya sebab dengan amalnya itu dia mengharap keduniaan, Allah memerintahkan kepadaku harus menahan amal ini jangan sampai melepasi langit yang lain.” Maka Malaikat semuanya melaknat kepada orang yang tersebut sampai petang.  Ada lagi Malaikat Hafadzah yang naik ke langit dengan membawa amal hamba Allah yang sangat memuaskan, penuh dengan sedekah, puasa dan bermacam-macam kebaikan yang oleh Malaikat Hafadzah dianggap demikian banyaknya dan
dipuji; tapi apabila sampai ke langit Ketiga kata Malaikat Penjaga Langit Ketiga:  “Berhentilah, tamparkanlah kewajah pemiliknya amal ini, saya Malaikat Penjaga Kibir(orang yang sombong/angkuh). Allah memerintahkan kepadaku agar amal ini tidak melepasi pintuku, jangan sampai ke langit berikutnya, salahnya sendiri dia takabbur kepada orang lain di dalam perkumpulannya.”

Singkatnya, Malaikat Hafadzah naik lagi ke langit dengan membawa amal hamba yang lain, bersinar bagaikan bintang yang paling besar, suaranya bergemuruh, penuh dengan tasbih, dengan puasa, sholat, haji dan umrah.
Begitu sampai langit yang keempat; Malaikat Penjaga langit Keempat itu berkata:  “Berhentilah jangan dilanjutkan, tamparkan amal ini ke wajah pemiliknya; saya ini Penjaga Ujub, Allah memerintahkan kepadaku agar amal ini jangan sampai melepasi, sebab jika dia beramal selalu ujub.”

Kemudian naik lagi Malaikat Hafadzah dengan membawa amal hamba yang diiringi seperti pengantin perempuan yang diiringi kepada suaminya, begitu sampai ke langit kelima membawa amal yang begitu bagus, seperti jihad,
ibadah Haji, Umrah, cahayanya berkilauan bagaikan matahari. Kata Malaikat Penjaga Langit Kelima:  “Saya ini penjaga sifat hasad/dengki, nah dia itu yang
amalnya demikian bagus suka hasud/iri hati kepada orang lain atas kenikmatan Allah yang diberikan kepadanya; jadi dia itu membenci kepada Yang meridhokan, (kepada Allah). Saya diperintahkan oleh Allah jangan membiarkan amalnya itu untuk melepasi pintuku ke pintu yang lain.”

Kemudian Malaikat Hafadzah naik lagi dengan membawa amal yang lain, membawa wudhu yang sempurna, sholat yang banyak, puasa, haji umrah sehingga sampailah ke langit yang Keenam; kata Malaikat penjaga pintu itu:
“Saya ini Malaikat Penjaga Rahmat, nah amal yang seolah-olah bagus ini tamparkanlah ke wajah pemiliknya, salahnya sendiri bahawa dia itu belum
pernah mengasihi orang lain, apabila ada orang mendapat musibah, maka dia merasa senang. Saya diperintahkan oleh Allah bahawa amalnya ini jangan melepasiku, supaya jangan sampai kepada pintu yang lain.”

 Dan naik lagi Malaikat Hafadzah ke langit dengan membawa amal si hamba berupa bermacam-macam sedekah, puasa, sholat, jihat dan wara’; suaranya pun bergemuruh bagaikan geledek, cahayanya bagaikan kilat. Begitu sampai kepada langit yang ke tujuh, kata Malaikat yang menjaga langit yang Ketujuh itu: “Saya ini Penjaga Suma’ah(ingin masyhur), sesungguhnya sipengamal ini ingin termasyhur dalam kumpulan-kumpulan dan selalu ingin tinggi di saat
berkumpul dengan kawan-kawannya yang sebaya dan ingin mendapat pengaruh dari para pemimpin, Allah memerintahkan kepadaku agar amalnya itu jangan sampai melepasiku dan jangan sampai kepada yang lain, dan tiap-tiap amal yang tidak bersih kerana Allah, maka itulah balasannya. Allah itu tidak akan menerima dan mengabulkan kepada amalnya orang-orang yang riya.”

Kemudian Malaikat Hafadzah itu naik lagi dengan membawa amalnya hamba seperti sholat, zakat, puasa, haji, umrah, akhlak yang baik dan pendiam tidak banyak bercakap kosong, selalu berzikir kepada Allah; kemudian diiringi oleh Malaikat ke langit ketujuh sehingga sampai menerobos hijab-hijab dan sampailah ke hadirat Allah. Para Malaikat itu berdiri di hadapan Allah. Semua menyaksikan bahawa amal ini adalah amal yang sholeh, yang diikhlaskan kerana Allah.  Tetapi firman Allah:
“Kalian Hafadzah, pencatat amal hambaKu, sedang Akulah yang mengintip hatinya, amal yang ini tidak kerana Aku, yang dimaksudkan olehnya itu adalah selain daripadaKu; tidak diikhlaskan kepadaKu. Aku lebih mengetahui daripada kamu apa yang dimaksudkan olehnya dengan amalnya itu. Aku laknat mereka, menipu kepada orang lain,dan juga menipu kepadamu(Malaikat-malaikat Hafadzah) tapi Aku ini tidak akan tertipu olehnya. Aku
ini Yang Paling Tahu akan hal yang ghaib-ghaib. Akulah yang melihat isi hatinya, dan tidak akan samar kepadaKu setiap apa pun yang samar, tidak akan tersembunyi bagiKu setiap apa pun yang tersembunyi. PengetahuanKu atas apa yang telah terjadi sama dengan pengetahuanKu akan apa yang bakal terjadi.PengetahuanKu atas apa yang telah lewat sama dengan pengetahuanKu kepada yang akan datang. PengetahuanKu kepada orang-orang yang terdahulu sebagaimana PengetahuanKu kepada orang-orang yang kemudian. Aku Lebih Tahu atas apa pun yang lebih samar dari pada
rahsia. Bagaimana bisa hambaKu dengan amalnya itu menipuKu, bisa juga mereka itu menipu kepada makhluk-makhluk yang tidak tahu, sedangkan Aku ini Yang Mengetahui kepada yang ghaib-ghaib. LaknatKu tetap kepadanya.” Kata ketujuh Malaikat dan 3000 Malaikat yang menyertai: “Ya Tuhan, dengan demikian tetaplah LaknatMu dan laknat kami semua bagi mereka.” Maka semua yang ada di langit mengucapkan: “Tetaplah laknat Allah kepadanya, laknatnya orang-orang yang melaknat.” Sayyidina Mu’adz(yang meriwayatkan hadis ini) kemudian menangis dengan terisak-isak dan berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana aku bisa selamat dari apa yang diceritakan itu?” Sabda Rasulullah: “Hai Mu’adz, ikutlah Nabimu dalam soal keyakinan!”
Aku bertanya kembali: “Tuan ini adalah Rasulullah,sedangkan saya ini hanyalah si Mu’adz bin Jabal.Bagaimana saya bisa selamat dan bagaimana bisa terlepas dari bahaya tersebut” Bersabda Rasulullah: “Ya begitulah, seandainya dalam amalmu ada kelengahan,maka tahanlah mulut mu jangan sampai menjelekkan orang lain dan juga kepada saudara-saudara mu sesama ulama;apabila kamu hendak hendak menjelekkan orang lain, kamu harus ingat kepada dirimu sendiri, sebagaimana engkau tahu bahwa dirimu pun penuh dengan aib-aib,jangan membersihkan dirimu dengan menjelekkan orang lain, jangan mengangkat diri sendiri dengan menekan orang lain, jangan riya dengan amalmu agar amalmu itu diketahui orang lain; dan janganlah termasuk orang yang mementingkan keduniaan dengan melupakan akhirat, kamu jangan berbisik-bisik dengan seseorang padahal
disebelahmu ada orang lain yang tidak diajak berbisik, dan jangan takabbur kepada orang lain, nanti akan luput bagimu kebaikan dunia dan akhirat, dan jangan berkata kasar dalam suatu majlis dengan maksud supaya orang-orang takut akan keburukan akhlakmu itu, jangan membangkit-bangkit apabila membuat kebaikan, jangan merobek-robek (peribadi) orang lain dengan sebab mulutmu, kelak engkau akan dirobek-robek oleh anjing-anjing jahanam yakni sebagaimana firman Allah yang bermaksud:
“Di neraka itu ada anjing-anjing perobek badan-badan manusia. Jadi mengoyak-ngoyak daging dari tulang.”  Aku berkata: “Ya Rasulullah, siapa yang akan kuat menanggung penderitaan semacam ini.”  Jawab Rasulullah saw: “Mua’adz, yang kami ceritakan tadi itu, akan mudah bagi mereka yang dimudahkan oleh Allah SWT, cukup untuk menggalang semua itu; kamu
harus menyayangi orang lain sebagaimana kamu menyayangi dirimu sendiri, dan benci bagi orang lain apa-apa yang dibenci olehmu sendiri, apabila demikian, maka kamu akan selamat dan pasti dirimu akan terhindar.
Kata Khalid bin Ma’dan (yang meriwayatkan Hadits tersebut dari Sayyidina Mu’adz). “Sayyidina Mu’adz sering membaca Hadits ini sebagaimana seringnya membaca Al Quran, mempelajari Hadits ini sebagaimana mempelajari Al Quran dalam majlisnya.”
Tiada daya dan upaya melainkan dengan Allah yang Maha Mengetahui dan Maha Besar
Bermula ikhlas itu satu rahsia daripada rahsia aku,
aku taruhkan ia dihati hamba yang aku kasihi daripada
hamba-hamba ku.”

a. Diberikan oleh Allah harta benda, harta itu menambahkan ketaatan kepada Allah s.w.t
b. Diberikan oleh Allah isteri & anak-anak, mereka membawa kita lebih bertakwa kepada Allah s.w.t.
c. Dikurniakan oleh Allah Kesihatan yang berterusan dan berpanjangan.
d. Dikurniakan kebahagiaan, keamanan dan keharmonian yang berterusan dan berpanjangan.
e. Dihormati dan dikasihi dengan berpanjangan oleh ahli keluarga, guru-guru, kawan-kawan dan jiran tetangga.
f. Jika berhutang, hutang dapat dijelaskan dengan cepat dan tidak membebankan.
g. Segala ujian hidup dapat dihadapi dengan tabah dan kesabaran.
h. Akhir kehidupan dengan Husnul Khatimah iaitu meninggal dunia dalam ketaatan dan ketakwaan kepada Allah s.w.t.

Dosa tanpa nikmat…

Posted: January 18, 2011 in Sharing is Caring....

DOSA TANPA NIKMAT…

 Dosa itu bagaikan madu yang beracun. Menyenangkan hati bila melakukannya namun setelah itu menerima seksaan yang pedih dari Allah SWT. Tidak semua dosa dirasakan nikmat, manis seperti madu apabila dikerjakan. Ada dosa tanpa merasakan nikmat bagi orang yang melakukannya. Tidak disedari setiap langkah yang diayun, setiap gerak tangan yang dilenggang, setiap kata yand diucapkan dan setiap yang dilihat mengandungi dosa-dosa tanpa nikmat.
Dosa tanpa nikmat ertinya dosa-dosa yang dilakukan tak dirasakan nikmatnya di dunia ini, ia hanya menyakiti, menyusahkan dan merugikan diri sendiri sreta orang lain, tanpa dirasai kepuasan dari sudut dosa.

Dosa tanpa nikmat ini bagaikan hujan gerimis, lama kelamaan bumi menjadi basah dan banjir. Begitu pula dengan dosa, meskipun dosa kecil apabila sering dilakukan akan menjadi dosa besar. Apatah lagi dosa besar, jika sering dilakukan akan tenggelamlah segala kebaikan dalam kehidupan insan.

Renungkanlah dalam diri kita sendiri. “SESUNGGUHNYA HIKMAH ALLAH MENCIPTAKAN SATU MULUT DAN DUA TELINGA ITU AGAR HAMBANYA LEBIH BANYAK MENDENGAR DARIPADA BERBICARA”. Oleh itu, hindarilah dosa-dosa kecil agar kita tidak terjerumus ke dalam jurang dosa-dosa besar. Firman Allah SWT dalam Surah Al-Kahfi ayat 103-104 yang bermaksud:

“Katakanlah, apakah akan Kami beritahu kepadamu tentang orang-orang yang paling rugi perbuatannya? Iaitu orang-orang yang telah disia-siakan perbuatannya dalam kehidupannya di dunia ini, sedangkan mereka menyangka mereka berbuat sebaik-baiknya”

Semoga kita dapat memahami hakikat dosa yang sebenarnya, InsayAllah..

 

1. Mereka yang tidak ada lidah dan tidak ada hati.

Mereka ini ialah orang-orang yang bertaraf biasa, berotak tumpul dan berjiwa kerdil yang tidak mengenang Allah dan tidak ada kebaikan pada mereka. Mereka ini ibarat melukut yang ringan, kecuali mereka dilimpahi dengan kasih sayang Allah dan membimbing hati mereka supaya beriman serta menggerakkan angota-anggota mereka supaya patuh kepada Allah.

Berhati-hatilah supaya kamu jangan termasuk dalam golongan mereka. Janganlah kamu layan mereka dan janganlah kamu bergaul dengan mereka. Merekalah orang-orang yang dimurkai Allah dan penghuni neraka. Kita minta dilindungi Allah dari pengaruh mereka. Sebaliknya kamu hendaklah cuba menjadikan diri kamu sebagai orang yang dilengkapi dengan Ilmu Ketuhanan, Guru kepada yang baik,Pembimbing kepada agama Allah,Penyampai dan pengajak kepada manusia kepada jalan Allah.Berjaga-jagalah jika kamu hendak mempengaruhi mereka supaya mereka patuh kepada Allah dan beri amaran kepada mereka terhadap apa-apa yang memusuhi Allah. Jika kamu berjuang di jalan Allah untuk mengajak mereka menuju Allah, maka kamu akan jadi pejuang dan pahlawan di jalan Allah dan akan diberi ganjaran seperti yang diberi kepada Nabi-nabi dan Rasul.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda kepada Sayyidina Ali; “Jika Allah membimbing seseorang melalui bimbingan kamu kepadaNya, maka itu terlebih baik kepada kamu dari apa-apa sahaja di mana matahari terbit”.

2. Mereka yang ada lidah tetapi tidak ada hati.

Mereka bijak bercakap tetapi tidak melakukan seperti yang dicakapkannya. Mereka mengajak manusia menuju Allah tetepi mereka sendiri lari dari Allah.Mereka benci kepada maksiat yang dilakukan oleh orang lain, tetapi mereka sendiri bergelumbang dalam maksiat itu.Mereka menunjuk kepada orang lain yang mereka itu Soleh tetapi mereka sendiri melakukan dosa-dosa yang besar. Bila mereka bersendirian, mereka bertindak selaku harimau yang berpakaian. Inilah orang yang dikatakan kepada Nabi SAW. dengan sabda;

“Yang paling aku takuti dan aku pun takut di kalangan umatku ialah orang alim yang jahat”.

Kita berlindung dengan Allah daripada orang alim seperti itu. Oleh itu,larilah dan jauhkan diri kamu dari orang-orang seperti itu. Jika tidak,kamu akan terpengaruh oleh kata-kata manis yang bijak berbicara itu dan api dosanya itu akan membakari kamu dan kekotoran hatinya akan membunuh kamu.

3. Mereka yang mempunyai hati tetapi tidak ada lidah.

Dia adalah seorang yang beriman.Allah telah mendindingkan mereka daripada makhluk dan menggantungkan di keliling mereka dengan tabirNya dan memberi mereka kesedaran tentang cacat cedera diri mereka. Allah menyinari hati mereka dan menyedarkan mereka tentang kejahatan yang timbul oleh kerana mencampuri urusan orang ramai dan kejahatan yang timbul oleh kerana mencampuri orang ramai dan kejahatan kerana bercakap banyak.

Mereka ini tahu bahawa keselamatan itu terletak dalam “DIAM” dan bekhalwat. Nabi SAW. pernah bersabda;

“Barangsiapa yang diam akan mencapai keselamatan”.

Sabda baginda lagi;

“Sesungguhnya berkhidmat kepada Allah itu terdiri dari sepuluh bahagian, sembilan darinya terletak dalam diam”.

Oleh itu mereka dalam golongan jenis ini adalah Wali Allah dalam rahsiaNya, dilindungi dan diberi keselamatan, bijaksana, rakan Allah dan diberkati dengan keredhoan dan segala yang baik akan diberikan kepada mereka.

Oleh itu, kamu hendaklah berkawan dengan mereka dan bergaul dengan orang-orang ini dan diberi pertolongan kepada mereka. Jika kamu berbuat demikian, kamu akan dikasihi Allah dan kamu akan dipilih dan dimasukkan dalam golongan mereka yang menjadi Wali Allah dan hamba-hambanya yang Soleh.

4.Mereka yang diajak ke dunia tidak nampak(Alam Ghaib), diberi pakaian kemuliaan seperti dalam sabda Nabi SAW;

‘Barangsiapa yang belajar dan mengamalkan pelajarannya dan mengajarkan orang yang lain, maka akan diajak ke dunia ghaib dan permuliakan”.

Orang dalam golongan ini mempunyai ilmu-ilmu Ketuhanan dan tanda-tanda Allah. Hati mereka menjadi gedung ilmu Allah yang amat berharga dan orang itu akan diberi Allah rahsia-rahsia yang tidak diberi kepada orang lain. Allah telah memilih mereka dan membawa mereka hampir hampir kepadaNya. Allah akan membimbing mereka dan membawa mereka ke sisiNya. Hati mereka akan dilapangkan untuk menerima rahsia-rahsia ini dan ilmu-ilmu yang tinggi. Allah jadikan mereka itu pelaku dan lakuanNya dan pengajak manusia kepada jalan Allah dan melarang membuat dosa dan maksiat. Jadilah mereka itu “Orang-orang Allah”. Mereka mendapat bimbingan yang benar dan yang mengesahkan kebenaran orang lain.

Mereka ibarat timbalan Nabi-nabi dan Rasul-rasul Allah. Mereka sentoasa mendapat taufiq dan hidayah dari Allah Yang Maha Agung. Orang yang dalam golongan ini adalah pada peringkat terakhir atau puncak kemanusian dan tidak ada Maqam di atas ini kecuali Kenabian.

Oleh itu hati-hatilah kamu supaya jangan memusuhi dan membantah orang-orang seperti ini dan dengarlah cakap atau nasihat mereka. Oleh itu, keselamatan terletak dalam apa yang dicakapkan oleh mereka dan dalam berdamping dengan mereka, kecuali mereka yang Allah beri kuasa dan pertolongan terhadap hak dan keampunanNya.

Sheikh Abdul Qadir Al-Jailan telah bahagikan manusia itu kepada empat golongan. Sekarang terpulanglah kepada diri kita untuk memeriksa diri sendiri jika kita mempunyai fikiran. Dan selamatkanlah diri kita jika ingin keselamatan. Mudah-mudahan Allah membimbing kita menuju kepada apa yang dikasihiNya dan diredhaiNya, dalam dunia ini dan di akhirat kelak.

Dipetik dari Kitab Futuuhul Ghaib oleh Sheikh Abdul Qadir Al-Jailani.

Dari Ibnu Syihab, dari Abdurrahman bin Abdullah bin Ka’ab bin Malik, diriwayatkan, bahwa Abdullah bin Ka’ab bin Malik dia adalah penuntun Ka’ab dari anak-anaknya saat Ka’ab menjadi buta berkata: “Saya mendengar Ka’ab bin Malik bercerita tentang kisahnya saat tidak ikut dalam perang Tabuk.

Ka’ab bercerita, ‘Saya tidak pernah absen dalam peperangan yang dipimpin oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali perang Tabuk. Hanya saja, saya juga tidak ikut dalam perang Badar, tapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menegur orang-orang yang absen saat itu. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat itu hanya ke luar untuk mencegat kafilah onta yang membawa dagangan kaum Quraisy. Dan tanpa ada rencana sebelumnya, ternyata Allah Subhanahu wa Ta’ala memper-temukan kaum muslimin dengan musuh mereka. Tapi saya pernah ikut bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam (Baiatul) Aqabah, saat itu kami mengadakan janji setia terhadap Islam. Dan peristiwa ini lebih saya senangi ketimbang peristiwa perang Badar, walaupun perang Badar itu lebih sering dikenang oleh banyak orang!’

Sehubungan dengan perang Tabuk, ceritanya begini. Saya tidak pernah merasa lebih kuat secara fisik dan lebih mudah secara ekonomi ketimbang saat saya absen dalam perang itu. Demi Allah, saya tidak pernah punya dua kendaraan (kuda), tetapi ternyata saat perang itu saya bisa mempunyai dua kendaraan. Sebelum Tabuk, bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak para sahabat untuk perang, biasanya beliau selalu tidak menerangkan segala sesuatunya dengan jelas dan terang-terangan. Tetapi dalam perang ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berterus terang kepada para sahabat. Sebab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan melangsungkan peperangan ini dalam kondisi cuaca yang sangat panas. Beliau akan menempuh perjalanan yang jauh, melalui padang pasir yang begitu luas. Dan beliau juga akan menghadapi musuh dalam jumlah besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan semua ini pada para sahabat. Saat itu, jumlah kaum muslimin memang banyak. Tidak ada catatan yang menyebutkan nama-nama mereka secara lengkap.’

Ka’ab berkata, ‘Dari saking banyaknya, sampai-sampai tak ada seorang pun yang ingin absen saat itu kecuali dia menyangka tidak akan diketahui selagi wahyu tidak turun dalam hal ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melangsungkan perang Tabuk itu di saat buah-buahan dan pohon-pohon yang rindang tumbuh dengan suburnya. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin telah bersiap-siap, hampir saja saya berangkat dan bersiap-siap dengan mereka. Tapi ternyata saya pulang dan tidak mem-persiapkan apa-apa. Saya berkata dalam hati, ‘Saya bisa bersiap-siap nanti.’ Begitulah, diulur-ulur, sampai akhirnya semua orang sudah benar-benar siap. Di pagi hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkumpul bersama kaum muslimin untuk berangkat. Tetapi saya tetap belum mempersiapkan apa-apa. Saya berkata, ‘Saya akan bersiap-siap sehari atau dua hari lagi, kemudian saya akan menyusul mereka setelah mereka berangkat.’ Saya ingin bersiap-siap, tapi ternyata saya pulang dan tidak mempersiapkan apa-apa. Begitulah setiap hari, sampai akhirnya pasukan kaum muslimin benar-benar sudah jauh dan perang dimulai. Saat itu saya ingin berangkat untuk menyusul mereka, tapi sayang, saya tidak melakukannya. Saya tidak ditakdirkan untuk berangkat.

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin keluar dari kota Madinah, aku keluar dan berputar-putar melihat orang-orang yang ada. Dan yang menyedihkan, yaitu bahwa saya tidak melihat kecuali yang dicurigai sebagai munafik atau orang lemah yang memang mendapat keringanan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sementara itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyebut-nyebut saya sampai beliau tiba di Tabuk. Di sana, beliau duduk-duduk bersama para sahabat dan ber-tanya, ‘Apa yang diperbuat Ka’ab?’ Ada seseorang dari Bani Salamah yang menyahut, ‘Ya Rasulullah, dia itu tertahan oleh pakaiannya dan bangga dengan diri dan penampilannya sendiri.’ Mendengar itu Muadz bin Jabal berkata, ‘Alangkah jeleknya apa yang kamu katakan. Demi Allah ya Rasulullah, kami tidak mengetahui dari Ka’ab itu kecuali kebaikan.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diam.’

Ka’ab melanjutkan ceritanya, ‘Ketika saya mendengar bahwa beliau bersama pasukan kaum muslimin menuju kota Madinah kembali, saya mulai dihinggapi perasaan gundah. Saya pun mulai berfikir untuk berdusta, saya berkata, ‘Bagaimana saya bisa bersiasat dari kemarahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam besok?’

Untuk itu, saya minta bantun saran dari keluarga saya. Setelah ada informasi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mulai masuk kota Madinah, hilanglah semua kebatilan yang sebelumnya ingin saya utarakan.

Saya tahu, bahwa tidak mungkin saya bisa bersiasat dari kemarahan beliau dengan berdusta. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah tiba, dan biasanya bila beliau tiba dari suatu perjalanan, pertama kali beliau masuk ke masjid, lalu shalat dua rakaat, kemudian duduk-duduk menemui orang-orang yang datang.

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk, berdatanganlah orang-orang yang tidak ikut berperang menemui beliau. Mereka mengajukan berbagai macam alasan diikuti dengan sumpah jumlah mereka lebih dari 80 orang- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima mereka secara lahir dan membai’at mereka serta memin-takan ampunan. Adapun rahasia-rahasia hati, semuanya beliau pasrahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Saya pun datang menemui beliau dan mengucapkan salam. Beliau tersenyum sinis, kemudian berkata, ‘Kemarilah!’ Saya berjalan sampai duduk di hadapan beliau. Lalu beliau bertanya, ‘Apa yang membuatmu tidak ikut serta? Tidakkah kau sudah membeli kendaraanmu?’ Saya jawab, ‘Ya benar. Demi Allah, sekiranya aku sekarang duduk di hadapan orang selain engkau dari seluruh pendu-duk dunia ini, tentu aku bisa selamat dari kemarahannya dengan mengemukakan alasan tertentu. Aku telah di-karuniai kepandaian berdiplomasi. Akan tetapi, demi Allah, aku yakin, kalau hari ini aku berdusta kepada engkau dan engkau rela menerima alasanku, niscaya Allah akan mena-namkan kemarahan diri engkau kepadaku. Dan bila aku berbicara jujur kepada engkau, maka engkau akan menjadi marah karenanya. Sesungguhnya aku mengharapkan pengampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala . Tidak, demi Allah, sama sekali saya tidak mempunyai alasan apa pun secara fisik dan lebih lapang secara ekonomi daripada saat aku tidak ikut serta dengan engkau.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Orang ini telah berkata jujur, bangun dan pergilah sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan keputusan dalam masalahmu ini!’ Saya pun berdiri dan pergi. Saat itu orang-orang dari Bani Salamah mengikutiku, mereka berkata, ‘Demi Allah, kami tidak pernah mengetahui bahwa engkau pernah berbuat kesalahan sebelum ini. Mengapa engkau tidak mengajukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam alasan-alasan seperti yang dilakukan orang lain yang juga tidak ikut? Dan dosamu nanti akan hilang dengan istighfar (per-mintaan ampun) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untukmu.’ Mereka terus menerus mencerca saya sampai-sampai saya sempat berfikir untuk kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meralat pem-bicaraan saya yang pertama. Kemudian saya bertanya pada mereka, ‘Adakah orang yang mendapatkan perlakuan sama denganku?’ Mereka menjawab, ‘Ya, ada dua orang lagi yang mengatakan seperti apa yang kau katakan dan mendapat-kan jawaban seperti jawaban yang kau terima.’ Saya ber-tanya lagi, ‘Siapa mereka?’ Mereka menjawab, ‘Murarah bin Ar-Rabi’ Al-Amry dan Hilal bin Umayyah Al-Waqify.’ Mereka menyebutkan nama dua orang yang pernah ikut perang Badar dan mereka bisa dijadikan anutan. Setelah mendengar dua nama yang mereka sebutkan itu saya terus pergi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga di antara orang-orang yang tidak ikut bersama beliau. Akibatnya, orang-orang semua meninggalkan kami dan sikap mereka pun berubah, bahkan dunia ini pun seolah juga berubah, tidak sama dengan dunia yang saya kenal sebelumnya.

Kami merasakan hal demikian selama 50 hari. Selama itu, dua teman senasib saya hanya berdiam diri dan duduk di rumah masing-masing sambil menangis. Berbeda de-ngan saya, saya termasuk yang paling muda dan paling kuat menahan ujian ini. Saya pergi keluar dan ikut shalat berjamaah, tetapi tidak ada satu pun yang mau berbicara dengan saya. Saya datangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan saya ucapkan salam kepada beliau saat berada di tempat duduknya seusai shalat. Saya berkata dalam hati, ‘Adakah Rasulullah menggerakkan kedua bibirnya untuk menjawab salamku atau tidak?!’ Kemudian saya shalat di dekat beliau, saya mencuri pandangan. Saat saya sedang shalat, Rasulullah melihat kepada saya. Tapi bila saya menoleh kepadanya, beliau berpaling dari saya. Setelah cukup lama orang-orang meninggalkan saya, suatu saat saya pergi memanjat dinding kebun Abu Qatadah dia adalah sepupu saya dan termasuk orang yang paling saya cintai. Saya mengucapkan salam kepadanya, tetapi demi Allah dia tidak menjawab salam saya. Saya berkata, ‘Wahai Abu Qatadah! Demi Allah aku bertanya, adakah engkau tahu bahwa aku ini mencintai Allah dan RasulNya?’ Dia diam saja. Saya kembali bertanya tapi dia tetap diam. Saya bertanya sekali lagi, akhirnya dia juga menjawab, ‘Allah dan RasulNya sendiri yang lebih tahu.’ Air mata saya berlinang dan saya kembali memanjat dinding itu lagi.

Ketika saya berjalan di pasar Madinah, tiba-tiba ada se-orang bangsawan dari Syam. Dia termasuk para pedagang yang datang membawa makanan untuk dijual di Madinah. Dia berkata, ‘Siapa yang dapat menunjukkan di mana Ka’ab bin Malik?’

Orang-orang yang ada di situ menunjukkannya. Setelah dia mendatangi saya, dia menyerahkan pada saya sebuah surat dari Raja Ghassan. Dalam surat itu tertulis, ‘Aku telah mendengar bahwa kawanmu (yaitu Nabi Muhammad) telah meninggalkanmu, sementara engkau tidaklah dijadikan oleh Allah berada pada derajat yang hina dan terbuang. Datanglah kepada kami, kami akan menghiburmu.’ Setelah membaca surat itu saya bergumam, ‘Ini termasuk rangkai-an ujian Allah.’ Lalu saya bawa surat itu ke tungku dan membakarnya.

Setelah berlalu 40 hari dari total 50 hari , utusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada saya. Katanya, ‘Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyuruhmu untuk menjauhi isterimu!’ Saya bertanya, ‘Apakah saya harus menceraikannya atau bagaimana?’, dia menjawab, ‘Tidak, jauhilah dia dan janganlah kau mende-katinya’. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga me-ngirimkan utusan beliau kepada dua rekan senasib saya. Maka saya meminta pada isteri saya, ‘Pergilah kau ke tem-pat keluargamu. Menetaplah di sana sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala memutuskan masalah ini!’

Ka’ab berkata, ‘Isteri Hilal bin Umayyah datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, Hilal bin Umayyah itu sudah tua renta, dan dia tidak mempunyai pembantu. Apakah engkau keberatan bila aku melayaninya?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Tidak, tetapi jangan sampai dia mendekatimu!’ Isterinya menjawab, ‘Demi Allah, dia sudah tidak bisa bergerak lagi dan dia masih tetap menangis sejak dia mempunyai masalah ini sampai hari ini juga.’ Sementara itu sebagian keluarga saya berkata, ‘Bagaimana sekiranya engkau juga minta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah isterimu, agar dia bisa melayanimu seperti isteri Hilal bin Umayyah.’ Tetapi saya menjawab, ‘Demi Allah, dalam masalah ini aku tidak akan minta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila aku minta izin kepada beliau, sementara aku ini masih muda?!’

Saya berada dalam kondisi demikian selama sepuluh malam, sehingga jumlahnya 50 malam dari mulai pertama kali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang orang untuk berbicara pada kami. Pada hari yang ke-50, saya menghadiri shalat Subuh, setelah itu saya duduk-duduk, sementara kondisi saya persis seperti yang digambarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, diri sendiri terasa sempit, begitu juga bumi yang luas ini terasa sempit bagi saya. Saat saya duduk dalam keadaan demikian, tiba-tiba saya mendengar suara orang yang berteriak dengan lantang di atas bukit, ‘Wahai Ka’ab, bergembiralah!’ Saat itu juga saya langsung sujud, saya tahu bahwa masalah saya akan berakhir. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumum-kan datangnya taubat (pengampunan) Allah atas kami bertiga saat beliau selesai shalat Subuh. Banyak orang pergi menemui kami untuk menyampaikan kabar gembira. Sebagian mereka ada yang menemui dua kawan senasib saya, dan ada seseorang yang ingin menemui saya dengan berkuda. Sementara itu ada seorang Bani Aslam yang hanya berjalan kaki, lalu dia naik ke bukit dan meneriakkan kabar gembira pada saya. Ternyata suara itu lebih cepat dari pada kuda. Setelah orang yang naik ke bukit itu datang menemui saya untuk menyampaikan langsung, saya tang-galkan pakaian saya dan saya hadiahkan untuknya sebagai imbalan atas kabar gembiranya. Demi Allah, sebenarnya saya ini tidak mempunyai baju lagi selain itu. Akhirnya saya meminjam baju orang, kemudian berangkat menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang datang berduyun-duyun mengucapkan selamat atas kabar gembira ini. Mereka mengatakan, ‘Selamat atas pengam-punan Allah untukmu!’ Setelah itu saya masuk ke dalam mesjid, di situ terlihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk di kelilingi banyak orang. Tiba-tiba Thalhah bin Ubaidillah bangun dan menuju ke arah saya dengan setengah lari. Dia menjabat tangan saya dan mengucapkan selamat. Tidak ada seorang pun dari kaum Muhajirin yang bangun selain dia, dan saya tidak akan melupakannya.

Setelah saya mengucapkan salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata dengan wajah bersinar penuh kegembiraan, ‘Bergembiralah dengan datangnya sebuah hari yang paling baik yang pernah engkau lalui semenjak kau dilahirkan oleh ibumu.’ ‘Dari engkau atau dari Allah, ya Rasulullah?’ tanya saya. Beliau menjawab, ‘Bukan dariku, tapi dari Allah.’ Dan demikianlah, bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang gembira, wajah beliau bersinar seperti bulan. Kami semua tahu hal itu. Setelah aku duduk tepat di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, sebagai pertanda taubat ini, aku akan melepas semua hartaku dan menjadikannya sebagai shadaqah untuk Allah dan RasulNya.’ Rasulullah menjawab, ‘Ambillah sebagian dari hartamu, ini lebih baik untukmu.’ Saya berkata, ‘Ya, aku akan mengambil jatahku yang aku dapatkan dari perang Khaibar.’ Setelah itu saya ungkapkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyelamatkan aku dengan kejujuran, dan sebagai pertanda taubatku kepada Allah, aku berjanji bahwa aku akan selalu berkata jujur selama hidupku. Demi Allah, aku tidak mengetahui seorang muslim yang diuji oleh Allah dalam kejujuran kata-katanya melebihi ujian yang aku dapatkan.’

Dan sejak aku ungkapkan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, saya tidak pernah berdusta sampai hari ini. Saya memohon semoga Allah tetap menjaga saya selama sisa hidup saya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan firmanNya kepada RasulNya:

“Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan. Setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melain-kan kepadaNya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguh-nya Allahlah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang jujur.” (At-Taubah: 117-119).

Demi Allah, tidak ada nikmat yang telah Allah karuniakan kepada saya setelah nikmat hidayah Islam- yang lebih besar dari nikmat kejujuran saya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saya tidak ingin berdusta tapi kemudian binasa seperti binasanya orang-orang yang telah berdusta. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mem-berikan komentar tentang orang-orang yang berdusta di dalam wahyu yang diturunkanNya- dengan kata-kata yang sangat keras dan jelek.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Kelak mereka akan bersumpah kepdamu denga nama Allah apabila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka itu berpalinglah dari mereka, karena mereka itu adalah najis dan tempat mereka adalah Jahannam, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. Mereka akan bersumpah kepada-mu agar kamu rela kepada mereka. Tetapi, jika sekiranya kamu rela kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tidak rela kepada orang-orang yang fasik itu.” (At-Taubah: 95-96).

Ka’ab berkata:
“Kami bertiga tidak memperhatikan lagi orang-orang yang diterima alasan mereka setelah bersumpah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau menyumpah mereka dan memintakan ampun buat mereka, sementara itu beliau menangguhkan urusan kami sampai Allah sendiri yang memutuskan. Oleh karena itu Alah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan,”(Dan Allah juga telah menerima taubat) tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka.”

Yang dimaksud dalam ayat ini bukanlah tidak ikut serta-nya kami bertiga dalam perang, tetapi yang dimaksud adalah ditangguhkannya taubat kami serta tidak diikutsertakannya kami pada kelompok orang-orang yang telah ber-sumpah dan mengemukakan alasan dan diterima oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Kepada sahabatku semua….. ambilah pengajaran dari peristiwa di bawah ini.

Allah swt telah memerintahkan seorang Malaikat berjumpa Iblis supaya dia berjumpa dengan Rasulullah saw untuk memberitahu segala rahsianya; samada yang disukai mahupun yang dibencinya.

Hikmatnya ialah untuk meninggikan darjat Nabi Muhammad saw dan juga sebagai peringatan dan perisai kepada umat manusia. Maka Malaikat itu pun berjumpa Iblis dan berkata, “Hai Iblis! Bahawa Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar menyuruh engkau menghadap ke hadrat Rasullullah saw.

Hendaklah engkau buka segala rahsia engkau dan apa-apa yang disoal oleh Rasulullah hendaklah engkau jawab dengan sebenar-benarnya. Jikalau engkau berdusta walau satu perkataan pun, nescaya akan diputuskan segala suku-suku anggota badanmu, uratmu serta disiksa dengan azab yang amat keras” Demi mendengar sahaja kata Malaikat yang dahsyat itu, Iblis sangat ketakutan. Maka segeralah dia menghadap Rasulullah saw dengan menyamar sebagai seorang tua yang buta sebelah matanya dan berjanggut putih 10 helai; panjangnya seperti ekor lembu. Iblis pun memberi salam, sehingga 3 kali tidak juga dijawab oleh Rasulullah saw. Maka sembah Iblis(alaihi laknat),”Ya Rasulullah! Mengapa tuan hamba tidak mejawab salam hamba? Bukankah salam itu sangat mulia di sisi Allah?” Maka jawab Nabi dengah marah “Hai Aduwullah seteru Allah! Kepada aku engkau menunjuk baikmu? Jangan engkau cuba hendak tipu aku sebagimana engkau tipu Nabi Adam a.s sehingga keluar dari syurga Habil mati teraniaya dibunuh Qabil dengan sebab hasutan engkau, Nabi Ayub engkau tiup dengan asap racun ketika dia sedang sujud sembahyang hingga dia sengsara beberapa lama, kisah Nabi Daud dengan perempuan Urya, Nabi Sulaiman meninggalkan kerajaannya kerana engkau menyamar sebagai isterinya dan begitu juga beberapa Anbiya dan pendita yang telah menanggung sengsara akibat hasutan engkau.

Hai Iblis! Sebenarnya salam itu sangat mulia di sisi Allah azza wajalla, cuma salam engkau saja aku tidak hendak menjawabnya kerana diharamkan Allah. Maka aku kenal baik-baik engkaulah Iblis, raja segala iblis, syaitan dan jin yang menyamar diri. Apa kehendak engkau datang berjumpa aku?” Sembah Iblis,”Ya Nabi Allah! Janganlah tuan hamba marah. Kerana tuan adalah Khatamul Anbiya maka tuan dapat kenal akan hamba. Kedatangan hamba adalah disuruh Allah untuk memberitahu segala tipu daya hamba terhadap umat tuan dari zaman Nabi Adam hingga akhir zaman. Ya Nabi Allah! Setiap apa yang tuan tanya hamba sedia menerangkan satu persatu dengan sebenarnya, tiadalah hamba berani sembunyikan.” Maka Iblis pun bersumpah menyebut nama Allah dan berkata “Ya Rasulullah! Sekiranya hamba berdusta barang sepatah pun nescaya hancur leburlah badan hamba menjadi abu” Apabila mendengar sumpah Iblis itu, Nabi pun tersenyum dan berkata dalam hatinya, inilah satu peluang aku untuk menyiasat segala perbuatannya agar didengar oleh sekelian sahabat yang ada di majlis ini dan menjadi perisai kepada sekelian umatku.

Soalan Nabi (1) – “Hai Iblis! Siapakah sebesar-besar musuh engkau dan bagaimana aku terhadap engkau?” Jawab Iblis – “Ya Nabi Allah! Tuanlah musuh hamba yang paling besar di antara segala musuh hamba di muka bumi ini” Maka Nabi pun memandang muka Iblis, dan Iblis pun mengeletar kerana ketakutan. Sambung Iblis,”Ya Khatamul Anbiya! Adapun hamba dapat merupakan diri hamba seperti sekelian manusia, binatang dan lain-lain hingga rupa dan suara pun tidak salah sepertinya, kecuali diri tuan sahaja yang tidak dapat hamba tiru kerana ditegah oleh Allah. Kiranya hamba menyerupai diri tuan, maka terbakarlah diri hamba menjadi abu. Hamba cabutkan iktikad anak Adam supaya menjadi kafir kerana tuan berusaha memberi nasihat dan pengajaran supaya mereka kuat untuk memeluk agama Islam; begitu jugalah hamba berusaha menarik mereka kepada kafir, murtad atau munafik. Hamba akan tarik sekelian umat Islam dari jalan benar kepada jalan yang salah supaya masuk ke dalam neraka dan kekal di dalamnya bersama hamba”

Soalan Nabi ke 2 – “Hai Iblis! Betapa perbuatanmu kepada makhluk Allah” Jawab Iblis – “Adalah satu kemajuan bagi perempuan yang merenggangkan kedua pehanya kepada lelaki yang bukan suaminya, setengahnya hingga mengeluarkan benih yang salah sifatnya. Hamba goda segala manusia supaya meninggalkan sembahyang, leka dengan makan minum, berbuat durhaka, hamba lalaikan dengan harta benda drp emas, perak dan permata, rumahnya, tanahnya, ladangnya supaya hasilnya dibelanjakan kejalan haram. Demikian juga ketika temasya yang bercampur lelaki perempuan. Di situ hamba lepaskan sebesar-besar godaan supaya hilang maruah dan minum arak. Apabila terminum arak itu maka hilanglah akal, fikiran dan malunya. Lalu hamba hulurkan tali cinta dan terbukalah beberapa pintu maksiat yang besar, datang perasaan hasad dengki hingga kepada pekerjaan zina. Apabila terjadi kasih antara mereka, terpaksalah mereka mencari wang hingga menjadi penipu, peminjam dan pencuri. Apabila mereka teringat akan salah mereka lalu hendak bertaubat atau amal ibadat, hamba akan galang mereka supaya mereka menangguhkannya. Bertambah keras hamba goda supaya menambahkan maksiat dan mengambil isteri orang. Bila kena goda hatinya, datanglaah rasa riak, takbur, megah, sombong dan melengahkan amalnya. Bila pada lidahnya, mereka akan gemar berdusta, mencela dan mengumpat. Demikianlah hamba goda mereka setiap saat.”

Soalan Nabi ke 3 – “Hai Iblis! Mengapa engkau bersusah payah dan berpenat melakukan pekerjaan yang tidak mendatangkan faedah bahkan menambahkan laknat yang besar serta siksa yang besar di neraka yang paling bawah? Hai kutuk Allah! Siapa yang menjadikan engkau? Siapa yang melanjutkan usia engkau? Siapa yang menerangkan mata engkau? Siapa yang memberi pendengaran engkau? Siapa yang memberi kekuatan anggota badan engkau?” Jawab Iblis – “Sekelian itu adalah anugerah drp Tuhan Yang Maha Besar juga.

Tetapi hawa nafsu dan takbur menceburkan hamba menjadi sebesar-besar jahat. Tuan lebih tahu bahawa hamba telah beribu-ribu tahun menjadi ketua kepada sekelian Malaikat dan pangkat hamba telah dinaikkan dari satu langit ke satu langit yg tinggi. Kemudian hamba tinggal di dunia ini beribadat bersama sekelian Malaikat beberapa lama. Tiba-tiba datang firman Allah SWT hendak menjadikan seorang Khalifah di dunia ini, maka hamba pun membantah.

Lalu Allah mencipta lelaki (Nabi Adam) lalu dititahkan sekelian Malaikat memberi hormat kepada lelaki itu, kecuali hamba yang ingkar. Oleh itu Allah murka kpd hamba dan muka hamba yang cantik molek dan bercahaya itu bertukar menjadi keji dan hodoh. Hamba berasa sakit hati. Kemudian Allah menjadikan Adam raja di syurga dan dikurniakan seorang permaisuri(Siti Hawa) yg memerintah sekelian bidadari. Hamba bertanbah dengki dan berdendam kepada mereka. Akhirnya dapat juga hamba tipu melalui Siti Hawa yang menyuruh Adam memakan buah Khuldi, lalu keduanya dihalau dari syurga ke dunia. Kedua mereka berpisah beberapa tahun dan kemudian dipertemukan Allah (di Padang Arafah), hingga mereka mendapat beberapa orang anak. Kemudian kami hasut anak lelakinya Qabil supaya membunuh saudaranya Habil. Itu pun hamba masih tidak puas hati dan berbagai tipu daya hamba lakukan hingga Hari Kiamat. Sebelum tuan lahir ke dunia, hamba serta bala tentera hamba dengan mudah dapat naik ke langit untuk mencuri segala rahsia serta tulisan yg menyuruh manusia berbuat ibadat serta balasan pahala dan syurga mereka. Kemudian hamba turun ke dunia, dan memberitahu manusia yang lain daripada apa yang sebenarnya hamba dapat, dgn berbagai tipu daya hingga tersesat dengan berbagai kitab bidaah dan karut-marut. Tetapi apabila tuan lahir sahaja ke dunia ini, maka hamba tidak dibenarkan oleh Allah untuk naik ke langit serta mencuri rahsia, kerana banyak Malaikat yang menjaga di setiap lapisan pintu langit. Jika hamba berkeras juga hendak naik, maka Malaikat akan melontar dengan anak panah drp api yang menyala. Sudah banyak bala tentera hamba yang terkena lontaran Malaikat itu dan semuanya terbakar menjadi abu. Maka besarlah kesusahan hamba dan tentera hamba untuk menjalankan tugas hasutan.”

Soalan Nabi ke 4 – “Hai Iblis! Apakah yang pertama engkau tipu akan manusia?” Jawab Iblis – “Pertama sekali hamba palingkan iktikadnya imannya kepada kafir sama ada dari segi perbuatan, perkataan, kelakuan atau hatinya. Jika tidak berjaya juga, hamba akan tarik dengan cara mengurangkan pahala. Lama-kelamaan mereka akan terjerumus mengikut kemahuan jalan hamba”

Soalan Nabi ke 5 – “Hai Iblis! Jika umatku sembahyang kerana Allah, bagaimana hal engkau?” Jawab Iblis – “Sebesar-besar kesusahan kepada hamba. Gementarlah badan hamba dan lemah tulang sendi hamba. Maka hamba kerahkan berpuluh-puluh iblis datang menggoda seorang manusia, pada setiap anggota badannya. Setengah-setengahnya datang pada setiap anggota badannya supaya malas sembahyang, was-was, terlupa bilangan rakaatnya, bimbang pada pekerjaan dunia yang ditinggalkannya, sentiasa hendak cepat habis solat, hilangkan khusyuknya – matanya sentiasa menjeling ke kiri kanan, telinganya sentiasa mendengar orang brcakap serta bunyi-bunyi yang lain. Setengah Iblis duduk di belakang badan orang yang sembahyang itu supaya dia tidak kuasa sujud lama-lama, penat atau duduk tahiyat dan dalam hatinya sentiasa hendak cepat habis sembahyang, itu semua membawa kpd kurang pahala. Jika para Iblis itu tidak dapat menggoda manusia itu, maka hamba sendiri akan menghukum mereka dengan seberat-berat hukuman”

Soalan Nabi ke 6 – “Jika umatku membaca Al-Quran kerana Allah, apalah rasa engkau?” Jawab Iblis – “Jika mereka membaca Al-Quran kerana Allah, maka rasa terbakarlah tubuh hamba, putus-putus segala urat hamba lalu hamba lari daripadanya.”

Soalan Nabi ke 7 – “Jika umatku mengerjakan haji kerana Allah, bagaimana rasa engkau?” Jawab Iblis – “Binasalah diri hamba, gugurlah daging dan tulang hamba kerana mereka telah mencukupkan rukun Islamnya”

Soalan Nabi ke 8 – “Jika umatku berpuasa kerana Allah, bagaimana hal engkau?” Jawab Iblis – “Ya Rasulullah! Inilah bencana yang paling besar bahayanya kpd hamba. Apabila masuk awal bulan Ramadhan, maka memancarlah cahaya Arasy dan Kursi, bahkan sekelian Malaikat menyambut dengan kesukaan. Bagi orang yang berpuasa, Allah akan mengampunkan segala dosa yang lalu dan digantikan dengan pahala yang amat besar serta tidak dicatatkan dosanya selama dia berpuasa. Yang menhancurkan hati hamba ialah segala isi langit dan bumi; yakni Malaikat, bulan, bintang, burung dan ikan-ikan semuanya siang malam mendoakan keampunan orang yang berpuasa. Satu lagi kemuliaan orang berpuasa ialah dimerdekakan pada setiap masa dari azab neraka. Bahkan semua pintu neraka ditutup manakala semua pintu syurga dibuka seluas-luasnya, serta dihembuskan angin dari bawah Arasy yang bernama Angin Syirah yang amat lembut ke dalam syurga. Pada hari umat tuan mula berpuasa, dengan perintah Allah datanglah sekelian Malaikat dengan garangnya menangkap hamba dan tentera hamba; jin, syaitan dan ifrit lalu dipasung kaki dan tangan dengan besi panas dan dirantai serta dimasukkan ke bawah bumi yang amat dalam. Di sana pula beberapa azab yang lain telah menunggu kami. Setelah habis umat tuan berpuasa barulah hamba dilepaskan dengan amaran agar tidak mengganggu umat tuan. Umat tuan sendiri telah merasa ketenangan berpuasa seperti mana mereka bekerja dan bersahur seorang diri di tengah malam tanpa rasa takut berbanding bulan biasa.”

Soalan Nabi ke 9 – “Hai Iblis! Bagaimana sekelian sahabatku kepada engkau?” Jawab Iblis – “Sekelian sahabat tuan hamba juga adalah sebesar- besar seteru hamba.

Tiada upaya hamba melawannya dan tiada satu tipu daya yang dapat masuk kepada mereka. Kerana tuan sendiri telah berkata yang “Sekelian sahabatku adalah seperti bintang di langit, jika kamu mengikut mereka, maka kamu akan mendapat petunjuk.” Saidina Abu Bakar al-Siddiq sebelum bersama tuan lagi, hamba tidak dapat hampir kepadanya inikan pula setelah berdamping dengan tuan. Beliau begitu percaya atas kebenaran tuan hingga dia menjadi wazirul a’zam. Bahkan tuan sendiri telah mengatakan jika ditimbang sekelian isi dunia ini dengan amal kebajikan Abu Bakar, maka akan lebih berat amal kebajikan Abu Bakar.

Tambahan pula dia telah menjadi mertua tuan kerana tuan berkahwin dengan anaknya, Saiyidatina Aisyah yang juga banyak menghafaz Hadis tuan. Saidina Umar Al-Khattab pula tidaklah berani hamba pandang akan wajahnya kerana dia sangat keras menjalankan hukum syariat Islam dengan saksama. Jika hamba pandang wajahnya, maka gementarlah segala tulang sendi hamba kerana sangat takut. Ini kerana imannya sangat kuat apalagi tuan telah mengatakan, “JIKALAU adanya Nabi sesudah aku maka Umar boleh menggantikan aku” kerana dia adalah orang harapan tuan serta pandai membezakan antara kafir dan Islam hingga digelar ‘Al-Faruq’. Saidina Usman Al-Affan lagi hamba tidak boleh hampir, kerana lidahnya sentiasa bergerak membaca Al-Quran. Dia penghulu orang sabar, penghulu orang mati syahid dan menjadi menantu tuan sebanyak dua kali. Kerana taatnya, banyak Malaikat datang melawat dan memberi hormat kpdnya kerana Malaikat itu sangat malu kepadanya hingga tuan mengatakan,”Barang siapa menulis Bismillahir rahmanir rahim pada kitab atau kertas-kertas dengan dakwat merah, nescaya mendapat pahala seperti pahala Usman mati syahid” Saidina Ali Abi Talib pun itu hamba sangat takut kerana hebatnya dan gagahnya dia di medan perang, tetapi sangat bersopan, alim orangnya. Jika iblis, syaitan dan jin memandang beliau, maka terbakarlah kedua mata mereka kerana dia sangat kuat beribadat serta beliau adalah budak pertama memeluk agama Islam dan tidak pernah menunduk kan kepalanya kepada sebarang berhala. Digelar ‘Ali Karamullahu Wajhahu’ – dimuliakan Allah akan wajahnya dan juga ‘Harimau Allah’ dan tuan sendiri berkata “Akulah negeri segala ilmu dan Ali itu pintunya”. Tambahan pula dia menjadi menantu kepada tuan, lagilah hamba ngeri kepadanya.

Soalan Nabi ke 10 – “Bagaimana tipudaya engkau kpd umatku?” Jawab Iblis – “Umat tuan itu ada tiga macam. Yang pertama seperti hujan dari langit yang menghidupkan segala tumbuhan iaitu ulama yang memberi nasihat kepada manusia supaya mengerjakan perintah Allah serta meninggalkan laranganNya seperti kata Jibrail a.s “Ulama itu adalah pelita dunia dan pelita akhirat” Yang kedua umat tuan seperti tanah iaitu orang yang sabar, syukur dan redha dengan kurniaan Allah. Berbuat amal soleh, tawakal dan kebajikan. Yang ketiga umat tuan seperti Firaun; terlampau tamak dengan harta dunia serta dihilangkan amal akhirat. Maka hamba pun sukacita lalu masuk kedalam badannya, hamba putarkan hatinya ke lautan derhaka dan hamba hela ke mana sahaja mengikut kehendak hamba. Jadi dia sentiasa bimbang kpd dunia dan tidak hendak menuntut ilmu, tiada masa beramal ibadat, tidak hendak mengeluarkan zakat, miskin hendak beribadat. Lalu hamba godanya minta kaya dulu, dan apabila diizinkan Allah dia menjadi kaya, maka dilupakan beramal, tidak berzakat seperti Qarun yang tenggelam dengan istana mahligainya. Bila umat tuan terkena penyakit tidak sabar dan tamak, dia sentiasa bimbang akan hartanya dan setengahnya asyik hendak merebut dunia harta, cakap besar sesama Islam, benci dan menghina kepada yang miskin, membelanjakan hartanya untuk jalan maksiat, tempat judi dan perempuan lacur”

Soalan Nabi ke 11 – “Siapa yang serupa dengan engkau?” Jawab Iblis – “Orang yang meringankan syariat tuan hamba dan membenci orang belajar agama Islam”

Soalan Nabi ke 12 – ” Siapa yang mencahayakan muka engkau?” Jawab Iblis – “Orang yang berdosa, bersumpah bohong, saksi palsu, pemungkir janji”

Soalan Nabi ke 13 – “Apakah rahsia engkau kepada umatku?” Jawab Iblis – Jika seorang Islam pergi buang air besar serta tidak membaca doa pelindung syaitan, maka hamba gosok-gosokkan najisnya sendiri ke badannya tanpa dia sedari”

Soalan Nabi ke 14 – “Jika umatku bersatu dengan isterinya, bagaimana hal engkau?” Jawab Iblis – “Jika umat tuan hendak bersetubuh dengan isterinya serta membaca doa pelindung syaitan, maka larilah hamba dari mereka. Jika tidak hamba akan bersetubuh dahulu dengan isterinya, dan bercampurlah benih hamba dengan benih isterinya. Jika menjadi anak maka anak itu akan gemar kepada pekerjaan maksiat, malas pada kebaikan, durhaka. Ini semua kerana kealpaan ibu bapanya sendiri. Begitu juga jika mereka makan tanpa Bismillah, hamba yang dahulu makan daripadanya. Walaupun mereka makan, tiadalah rasa kenyang.”

Soalan Nabi ke 15 – “Dengan jalan apa boleh menolak tipu daya engkau?” Jawab Iblis – “Jika dia berbuat dosa, maka dia kembali bertaubat kpd Allah, menangis kesal akan perbuatannya. Apabila marah segeralah mengambil air sembahyang, maka padamlah marahnya.”

Soalan Nabi ke 16 – “Siapakah orang yang paling engkau lebih suka?” Jawab Iblis – “Lelaki dan perempuan yang tidak mencukur atau mencabut bulu ketiak atau bulu ari-ari(bulu kemaluan) selama 40 hari. Di situ lah hamba mengecilkan diri, bersarang, bergantung, berbuai seperti pijat pada bulu itu”

Soalan Nabi ke 17 – “Hai Iblis! Siapakah saudara engkau?” Jawab Iblis – “Orang yang tidur meniarap, orang yang matanya celik di waktu subuh tetapi menyambung tidur semula. Lalu hamba ulit dia lena hingga terbit fajar. Demikian jua pada waktu zohor, asar, maghrib dan isyak, hamba beratkan hatinya untuk solat”

Soalan Nabi ke 18 – “Apakah jalan yang membinasakan diri engkau?” Jawab Iblis – “Orang yg banyak menyebut nama Allah, bersedekah dengan tidak diketahui orang, banyak bertaubat, banyak tadarus Al-Quran dan solat tengah malam”

Soalan Nabi ke 19 – “Hai Iblis! Apakah yang memecahkan mata engkau?” Jawab Iblis – “Orang yang duduk di dalam masjid serta beriktikaf di dalamnya”

Soalan Nabi ke 20 – “Apa lagi yang memecahkan mata engkau?” Jawab Iblis – “Orang yang taat kpd kedua ibubapanya, mendengar kata mereka, membantu makan-pakai mereka selama mereka hidup”

Semoga dapat berfaedah dan pengajaran kepada kita semua.

wassalam.

Malu Seorang Wanita….

Posted: January 11, 2011 in Sharing is Caring....

Bila Sifat Malu Tidak Berfungsi…

Biasa kita mendengar, lelaki diistilahkan sebagai kumbang dan wanita pula sebagai bunga. Kalau kumbang suka kepada bunga, lelaki tentulah suka kepada wanita. Sejak remaja lagi keinginan lelaki kepada wanita sudah berputik. Lalu wanita menjadi sasaran usikan lelaki, baik di sekolah, di jalan-jalan raya, di pasar raya, di perhentian bas dan bahkan boleh dikatakan di mana-mana ruang dan peluang. Selagi usikan itu tidak diberi perhatian oleh wanita itu mereka akan terus mencuba dan terus mencuba.

Apakah keistimewaan wanita sehingga begitu kuat menarik perhatian lelaki? Sememangnya wanita lain daripada lelaki, terdapat banyak kelainannya.

Dalam sebuah hadis, Nabi S.A.W bersabda yang bermaksud: “Terdapat 99 bahagian tarikan pada wanita berbanding lelaki, lalu Allah kurniakan ke atas mereka sifat malu.” (Hadis riwayat Baihaqi)

Wanita, apapun yang dilakukannya akan mendapat perhatian lelaki, kalau dia berbuat baik, dikagumi, apabila berbuat jahat diminati, apabila dia memakai pakaian menutup aurat dilihat menawan, apabila berpakaian tidak menutup aurat (seksi) dilihat menggoda, dan macam-macam lagi yang menarikperhatian.

Oleh sebab itu Allah S.W.T. mengurniakan kepada wanita sifat malu. Dengan sifat malu itu mereka akan berfikir panjang sebelum melakukan sebarang tindakan. Kalau hendak buat jahat dia akan memikirkan kalau-kalau orang nampak, hendak dedahkan aurat dia takut orang mengganggunya, hendak berjalan seorang dia takut ada orang mengusiknya.

Begitulah peranan malu yang boleh membantu dalam tindak-tanduk seorang wanita. Tapi apa halnya kalau tidak tahu malu ? Tentulah mereka tidak akan memikirkan semua itu. Pedulikan apa orang kata, pedulikan kalau orang tengok, tak kisah kalau orang mengganggu dan mengusik, bahkan mereka rasa senang, seronok dan bahagia bila dalam keadaan begitu.

Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari, Nabi S.A.W. bersabda yang bermaksud: “Jika kamu tidak malu, buatlah sesuka hatimu.”

Hadis ini merupakan sindiran dalam tegahan. Sifat malu itu adalah pokok akhlak yang mulia dan budi pekerti yang terpuji. Tidak payah diletakkan sifat malu ini di atas neraca akal pun sudah mengakui sebagai suatu sifat yang perlu ada pada diri manusia.

Barangkali wanita hari ini kebanyakkannya tidak malu atau kurang malu sebab itu mereka sanggup melakukan apa saja dosa dan maksiat.

Atau barangkali jika sifat malu yang dikurniakan Allah itu sudah tidak berfungsi sepenuhnya. Kalau demikian, bererti tiada iman di dada mereka.

Jelasnya, mereka tidak takut kepada Allah, tidak gerun kepada neraka Allah dan tidak cinta kepada syurga Allah. Mereka langsung tidak takut dengan
hukuman yang bakal Allah timpakan ke atas mereka. Ini tandanya mereka tiada iman.

Apabila tidak beriman, maka sifat malu yang sedia ada itu secara automatik akan hilang. Inilah realiti yang tidak boleh dinafikan, buktinya boleh dilihat di mana-mana. Melalui media cetak seperti majalah Hai, Mangga, URTV dan sebagainya, media elektronik seperti rancangan-rancangan hiburan dan bahkan di hadapan mata kita sendiri berbagai ragam dan kemungkaran berlaku, tidak berkecuali dilakukan oleh wanita.

Sayang, wanita yang sepatutnya lebih istimewa daripada lelaki menjadi serendah-rendahnya hanya disebabkan sifat malunya tidak berfungsi sepenuhnya.

Tapi percayalah, kalau semua wanita boleh mengekalkan sifat malunya tentulah mereka akan berpakaian sopan, berakhlak mulia dan ketika itu mereka akan disegani oleh semua pihak. Dengan ini akan terhindarlah gejala buruk yang menimpa kaum wanita.

Apa Perlunya BERTAUBAT?

Posted: January 10, 2011 in Sharing is Caring....
Pernahkah kita bertanya kepada diri kita sendiri, kenapa kita perlu bertaubat? Ap reaksinya?

Apakah kita merasa perlu bertaubat sesekali atau melakukannya terus menerus?

Mungkin, ada orang yang menganggap tidak perlu bertaubat terus-menerus. Ada juga yang merasa sangat perlu melakukannya. Bahkan jika mungkin, ingin melakukannya setiap saat.

Bagi yang merasa tidak perlu mengulang-ulang taubat, alasannya, pasti kerana mereka merasa tidak ada kesalahan yang menjadikannya perlu sentiasa memperbaharui taubat. Tapi bagi yang merasa sangat mementingkan taubat, itu dilandasi kesedaran sebagai manusia mereka tidak terlepas daripada kekhilafan. Apalagi kesalahan kepada Allah Maha Pencipta.
Apabila kita melakukan kesalahan kepada seseorang, cara terbaik untuk menyelesaikannya adalah dengan meminta maaf. Meminta maaf, pada mulanya memang sangat berat. Ini kerana adanya rasa malu dan sebagainya. Tetapi apabila dilakukan, ternyata itu lebih bermanfaat.Fikiran menjadi lebih tenang, dan jiwa menjadi tenteram. Suasana hati pun automatik menjadi damai. Itu pasti. Sebaliknya, andai kita menunda kemaafan kepada orang tersebut, hati kita akan penuh dengan perasaan kacau-bilau dan gelisah.

Jika terhadap sesama manusia kita sanggup meminta maaf, hatta atas kekhilafan yang kecil, apalagi kesalahan yang berkait dengan Allah SWT. Sepatutnya kita lebih segera lagi meminta ampun. Ini kerana tidak ada manusia yang tidak bersalah, bahkan sesiapapun manusia sangat banyak memiliki kesalahan dan kekurangan di hadapan Allah.

Hanya Rasulullah yang bersifat ma’sum, terlepas daripada kesalahan dan dosa. Setiap Nabi dan rasul yang diutus Allah ke muka bumi, sentiasa bertaubat dan memohon ampun kepada Allah.

Apapun anggapan orang, manusia sebenarnya sangat banyak melakukan kesalahan dan dosa. Ada ulama yang mengatakan bahawa manusia itu, kedipan matanya sudah dapat mengandung dosa. Dosa mata dengan penglihatan, dosa telinga dengan pendengaran, dosa tangan dengan perbuatan, dosa kaki dengan langkah dan gerakan, dosa hati dengan niat dan maksud, dosa lidah dengan tutur kata dan sebagainya.

Ada orang yang menganggap melakukan dosa kecil itu merupakan kesalahan yang remeh dan kerananya tidak akan memberi apa-apa kesan. Walhal, orang yang menganggap kesalahan yang dilakukan sebagai dosa kecil, sebenarnya sangat mungkin ia telah memiliki dosa yang besar. Dosa kecil, ibarat debu berterbangan yang melekat pada kain. Jika dibiarkan terus-menerus, kain itu pun akan menjadi kotor juga.

Ilustrasi seperti itu yang digambarkan oleh Rasulullah SAW. “Sesungguhnya iman itu muncul dalam hati bagaikan sinar putih. Kemudian dosa muncul pada hati seperti titik-titik hitam. Lalu merebak sampai seluruh hati menjadi hitam legam”.

Perkara ini menjadi sebab bagi orang yang menggunakan fikiran sihat, tidak mahu mengisi waktu-waktunya dengan perbuatan yang sia-sia seperti mengumpat atau mencari kesalahan orang lain. Dia lebih berharap agar menjadi orang yang lebih disibukkan oleh kesalahan peribadi daripada kesalahan orang lain.

Allah SWT berfirman, “Siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itu adalah orang yang aniaya”. (QS Al-Hujurat:11)
Mengetahui besar dan bahaya dosa, merupakan langkah pertama seseorang untuk meninggalkan dosa. Hal ini yang dimaksudkan oleh Imam Al-Ghazali dalam tahap ilmu (mengetahui). Ertinya, seseorang tidak akan melakukan taubat kecuali setelah dia menyedari bahaya dosa. Daripada kesedaran ini, seseorang akan menjauhi segala kemaksiatan, menyesalinya, dan bertekad untuk tidak melakukannya pada masa akan datang. Rasulullah bersabda, “Taubat itu adalah penyesalan” (HR Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dan Al-Hakim dengan sanad sahih)

Mempercayai dosa sebagai racun mematikan, termasuk kesinambungan iman. Rasulullah SAW pernah mengaitkan berkurangnya kesempurnaan iman dengan perbuatan maksiat. “Seseorang tidak mungkin berzina, sedangkan dia orang yang beriman”. (Muttafaq alaih) Secara timbal balik, perbuatan zina itu akan mengurangi iman seseorang.

Orang yang melakukan zina, sama sahaja dengan tidak mempercayai larangan Allah SWT. Allah SWT melarang zina, antara lain kerana zina akan melahirkan banyak bahaya pada pelakunya, mahupun masyarakat. Sama dngan seorng doktor yang menyatakan, “Jangan sekali-kali minum ini kerana ini adalah racun yang membunuh”. Pesakit yang tetap meminum racun, sama ertinya dia tidak percaya dengan nasihat doktor. Atau dia tidak percaya bahawa kata-kata doktor itu benar.

Daripada analogi sederhana ini, pelaku kemaksiatan bererti menderita pengurangan iman. Bayangkan, keadaan ini kita alami ketka tiba pada batas usia ayang Allah berikan. Imam al-Ghazali berkata, “Orang yang tidak segera bertaubat terancam bahaya besar. Hatinya menjadi gelap dan berkarat. Kemudian bila dia sakit atau mati, bererti dia mengadap Allah dengan hati yang tidak sejahtera”. Dan itu pula sebabnya, al-Ghazali menyatakan bahawa taubat wajib dilakukan terus-menerus, dan sesegera mungkin.

Tidak ada seorang pun yang mengetahui bila datangnya ajal. Hikmah yang paling utama adalah, agar setiap manusia berusaha melakukan amal soleh sepanjang hidupnya. Rasulullah SAW selalu berdoa agar baginda menghadap Allah SWT dalam keadaan yang baik. Baginda kerap mengucapkan, “Ya Allah, jadikanlah kebaikan itu pada penghujung umurklu. Ya Allah, jadikanlah kesudahan amalku itu adalah redha-Mu. Ya Allah, jadikanlah saat yang terbaik bagiku adalah saat menemui-Mu”. (HR Tabrani)

Dalam hadis lain disebutkan munajat Rasulullah SAW, “Ya Allah jadikanlah kebaikan itu pada penghabisan umurku. Dan kebaikan amalku adalah kesudahannya, dan waktu yang terbaik adalah saat menemui-Mu”. (HR Tabrani)

Demikianlah untaian doa utusan Allah SWT yang telah dijamin keselamatan hidupnya, di dunia dan di akhirat. Baginda juga kerap memotivasi umatnya agar memiliki akhir yang baik dalam hidup. Suatu ketika, Nabi SAW bersabda, “Jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba-Nya, maka ia akan menggunakannya”. Para sahabat lalu bertanya, “Apa maksudnya ya Rasulullah?” Rasul kemudian menjawab, “Allah akan menjadikannya beramal soleh, lalu Ia wafatkan pada waktu itu”.(HR Tirmidzi)

Oleh itu, menurut Rasulullah, nilai kebaikan seseorang tidak dapat ditentukan, sebelum diketahui bagaimana akhir hayatnya. “Jangan terburu tertarik dengan amal yang dilakukan seseorang, sebelum engkau melihat bagaimana akhir hidupnya”. (HR Ahmad)

Apabila tidak ada yang tahu tahap atau batas usia manusia, dan tidak ada manusia yang suci daripada dosa, kenapa kita harus menunda-nunda taubat. Segeralaah memohon ampun, beristighfar pada Allah. Semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang diberi kurnia, menemui-Nya dalam keadaan yang paling baik. Amiin.

 

 

www.iLuvislam. com
cahayatermasyhur
editor : kasihsayang
Sedar atau tidak, pasti terkadang jiwa insani itu dihimpit naluri untuk bermegah-megah dengan setiap kelebihan yang dimiliki. Tatkala iman mula goyah, taqwa mula merapuh, nafsu merasuk nurani suci, lalu hati tunduk pada bisikan syaitan nan keji. Waktu itu, insani juga bisa terlupa bahawa tiap-tiap satu nikmat yang dikecapinya itu hadir hanya dengan izin Allah s.w.t. Lihatlah, betapa liciknya sang iblis! Sehinggakan, terkadang itu, di dalam jalan dakwah yang mulia ini, mampu terbitnya fitnah yang merugikan. Walhal, amal palsu menampakkan cerminan bahawa kita seolah-olah berada di atas jalan yang benar. Alangkah ruginya jika selama ini segala amal ibadah kita tidak diterima Khaliq! Maha Suci Allah yang tiap-tiap jiwa berada dalam genggamanNya! Kami mohon berlindung daripada melakukan amal yang sia-sia!

 

Apakah itu amal yang sia-sia?

Itulah amal yang didasari rasa ‘ujub, riak dan takabbur. Bilamana landasan keikhlasan sudah mulai robek, diri lantas mendabik dada! Amal ibadah yang sepatutnya dilaksanakan berteraskan ketaatan kepada Ar-Rahman, mula mengintai pengiktirafan manusia lain. Harapan kepada pujian ramai mula berbunga-bunga. Saat ada pula yang lebih berjaya, hasad dengki mula mengambil tempatnya! Saat ada yang tersungkur, dia bersyukur! Betapa, manusia ini hamba yang hina dina. Waras akalnya tidak bersatu dengan kata hati, lalu pantas sahaja mendabik dada tanpa sedikit pun rasa malu. Betapa, dia hampir sahaja terlupa bahawa setiap denyut nadinya itu berada di bawah pengawalan Tuhan Yang Satu.

Pernahkah kita berfikir, sebaik sahaja usai solat fardhu yang kita lakukan; Adakah solatku ini diterima? Masih wujudkah lagi pandangan kasih Allah kepadaku? – Jika ya, teruskanlah istiqamah dengan pertanyaan-pertanya an sebegini. “ Seburuk-buruk pencuri ialah orang yang mencuri di dalam solatnya. Para sahabat bertanya, siapakah orang itu? Maka Rasulullah s.a.w menjawab; orang yang tidak sempurna rukuk dan sujudnya” -H.R Ahmad. Mengapa penulis mengaitkan soal hina hamba dengan solat? Kerana, solat adalah asas dan merupakan tiang kepada agama seseorang muslim. Malah, amalan pertama yang akan ditanya di akhirat kelak juga merupakan solat fardhu seseorang hamba itu.
Jika baik solatnya, maka baiklah seluruh amalannya dan begitulah sebaliknya. Justeru, marilah kita kembali menilai khabar iman dan amal kita. Adakah solat kita mampu mengawal diri daripada melakukan perkara keji dan mungkar seperti apa yang terkandung dalam kalamullah itu? Ikhlaskah kita dalam menunaikan solat, atau hanya atas dasar tidak tahan mendengar leteran ibu ayah? Atau hanya atas alasan amalan ikut-ikutan sahaja? Tanpa sekelumit pun rasa untuk berusaha mengkaji hikmah sebenar solat terhadap diri manusia? Barangkali juga ada di antara kita yang bersolat hanya kerana ingin menunjuk-nunjuk.

Maha Suci Allah Yang Maha Pengampun, lagi Maha Penerima taubat, ampunkanlah dosa kami dan terimalah taubat kami..

Kasih sayang Allah s.w.t meliputi seluruh kerajaan lagit dan bumiNya. Kerana itulah setiap makhluk yang bernyawa mendapat bahagian rezeki mereka masing-masing. Betapa hebatnya rencana Al-Manan dan betapa hinanya nilai seorang hamba! Masakan dengan sedikit tempias nikmat Allah itu dia bisa merasakan diri cukup sempurna? Mengaku diri dengan kemuliaan, mengangkat diri dengan ilmu pengetahuan yang masih cetek pada hakikatnya, memanjangkan mata pada keindahan dunia, dan menghambakan diri kepada nafsu yang menggila, semua ini sifat tercela yang harus dibuang jauh-jauh dengan hanya satu cara.

Yakni penyucian nurani hati dengan hiasan sifat tawaddhuk dan semaikanlah rasa jiwa kehambaan kerana sesungguhnya manusia itu tiada daya dalam melawan kekuasaan Allah s.w.t. Ibnu Umar pernah meriwayatkan sebuah hadis, sabda Rasulullah s.a.w yang mulia; ” Sesungguhnya, hati ini boleh berkarat sebagaimana berkaratnya besi bila terkena air. Baginda ditanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana cara membersihkannya? ” Rasulullah menjawab, “Perbanyakkanlah mengingati mati dan membaca Al-Quran-(H.R Baihaqy)

Pertolongan yang tidak disangka-sangka

Tanpa kita ketahui, sebenarnya pertolongan Allah itu sering sahaja berlaku secara tiba-tiba dan tidak disangka-sangka. Bagi yang sentiasa meletakkan diri dalam keindahan tawakkal kepadaNya, saat pertolongan dan bantuan Allah itu lahir, jiwanya sentiasa dirundung rasa keinsafan.

Lidahnya tidak henti-henti mengucapkan rasa syukur sehinggakan air matanya turut sama menyatakan rasa terima kasih tidak terhingga kerana masih mendapat pandangan kasih Ar-Rahman. Lantas, amalnya diperhebat kerana dalam diri tersemat indah rasa kehambaan. Keimanannya bahawa dengan mengingati Allah dikala senang, pasti mendapat perhatian Allah di kala susah semakin menebal. Alangkah indahnya saat jiwa berada dalam dakapan iman!

Bagi jiwa yang sakit, pasti pertolongan yang hadir itu dirasakan dengan berkat usahanya sendiri dengan menafikan bahawa tiap-tiap yang berlaku itu hanya terjadi dengan izin Dia Yang Maha Berkuasa. Inilah realiti kehidupan yang terjadi pada umat baginda rasul, Muhammad s.a.w yang diuji dengan pangkat dan harta kekayaan. Begitu juga dengan konteks pelajar yang berjaya memperoleh keputusan yang cemerlang. Masih wujud sebilangan besar pelajar yang terlupa untuk mensyukuri nikmat kejayaan yang diberikan Tuhan kepada mereka. Mengapa hal ini terjadi, berbalik kepada jawapan yang sama. Kerana lunturnya rasa dan jiwa kehambaan.

Justeru, bagi orang-orang yang beriman, jangan pernah dirisaukan dengan perihal balasan Allah s.w.t kepada mereka. Sesungguhnya karunia Allah sangat luas. Masakan Allah tidak mengetahui penat lelah hamba-hambanYa yang soleh? Sehinggakan dunia dan seluruh isinya tidak layak diberikan sebagai ganjaran kepada mereka. Yang menanti pasti singgahsana nan indah di syurga kelak. Jangan pernah membiarkan penyakit ujub, riak dan takabbur merebak di hati. Juga jangan pernah menyesal andai segala apa yang kita kecapi tidak kita perolehi. Tiada satu makhluk pun yang bisa menandingi kehebatan dan kekuasaan Allah s.w.t. Pasti, bagi mereka yang terlibat di dalam jalan dakwah ini, persoalan mengenai himpitan-himpitan masalah menebal di benak fikiran. Barangkali pernah juga terlintas ” Benarkah apa yang aku lakukan ini? Jika Allah meredhai apa yang aku lakukan, masakan aku diuji sebegini rupa?” Ingatlah, berjuang memang pahit! Kerana syurga itu manis. Masakan, jalanan perjuangan dihampar permaidani merah? Bersyukurlah bagi mereka yang diuji dengan kesusahan sedangkan ujian berupa kesenangan itu sememangnya lebih payah.

Jiwa Hamba

Semaikanlah jiwa hamba dan hindarkanlah diri dari mendabik dada dengan kemuliaan dan harta benda. Sucikanlah hati dengan memperbanyak amalan zikir dan bacaan Al-Quran kerana Rasulullah s.a.w pernah berpesan kepada kita; di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Tarmizi ibnu Abbas; Seseorang yang tidak ada sedikitpun Al-Quran di dalam hatinya adalah seperti rumah yang kosong, (H.R Tarmizi) Nauzubillahi minzaalik. Bagi mereka yang sedang merawat hati, jangan pernah khuatir dengan persoalan berupa ” Mengapa semakin aku cuba merawat hati, semakin aku menemui kebuntuan, semakin aku menyedari kekotoran yang berlumut-lumut? ” Inilah tanda bahawa hati itu sedang dirawat.

Demikian jualah yang berlaku kepada tubuh badan kita saat para doktor menjalankan diagnosis. Jasad yang dirasakan sihat rupa-rupanya menghidap pelbagai penyakit-penyakit merbahaya. Oleh itu, nilailah kembali betapa kita ini sebenarnya mampu mengecapi nikmat kehidupan hanya dengan izin Dia Yang Maha Berkuasa. Beristighfarlah dengan ibu segala istighfar andai pernah terdetik di dalam hati rasa ‘ujub,riak dan takabbur. Mudah-mudahan redha Allah bersama kita..

Allahumma irhamna bil Quran, Waj’alhu lana imaman wa nuran wa hudan wa rahmah. Allahumma zakkirna minhuma nasina wa ‘allimna minhuma jahilna, waj’al hulana hujjatan ya Rabbal’Alamin. .

Ya Allah kasihanilah kami dengan Al-Quran, jadikanlah ia imam, cahaya dan rahmat bagi kami. Ya Allah ingatkanlah kami ketika lupa serta bimbinglah kami ketika kami tidak mengetahui serta jadikanlah Al-Quran itu hujjah bagi kami..

Muslimah Sejati…

Posted: January 7, 2011 in Sharing is Caring....

wanita muslimah sejati
kaulah mawar idaman
mekarmu dipagari dan dibajai
sesucinya hatimu seindah akhlakmu
diciptakan sebagai seorang wanita
mewarisi kelembutan wanita muslimah
kembangmu tetap indah
walau cuma ditangan larangan
menyiratkan nur keimanan
nan mekar dihiasi mahmudah
berkat asuhan ayah bonda
kaulah serikandi ummah
akhlakmu permata diri
peliharalah maruah dan budi
nescaya kaulah yang bernama
wanita sejati
kebanggaan ayah bonda

” Ya Allah Tuhan Yang Maha Bijaksana, berikanlah daku kekuatan dalam menghadapi kehidupan ini. Dunia ini dan segala isinya tidaklah bermakna tanpa redhaMu. Ya Allah Tuhan Yang Maha Mengetahui, ampunkanlah daku sekiranya pernah ku menduakanMu. Sesungguhnya daku insan yang lemah lagi hina, tidak berniat daku untuk mengingkariMu, apatah lagi untuk mensyirikkanMu. Ya Allah Tuhan Yang Maha Pemurah Lagi Maha Mengasihani, daku bersyukur kepadaMu kerna Kau telah memberikan daku sedetik sinar kehidupan tatkala bayang kegelapan semakin mengelilingiku. Ya Allah Yang Maha Berkuasa, sesungguhnya daku sedar bahawa setiap apa yang daku sangkakan baik itu mungkin tidak baik di pandangan Mu. Engkaulah Pencipta ku dan hanya Kau lah yang memahami apa yang terbaik untuk ku. Esok lusa mungkin ku akan kembali kepada Mu, terimalah daku Ya Allah, sesungguhnya cukuplah Engkau bagiku. Lailahaillallah…”